Showing posts with label Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Nusantara. Show all posts
Monday, November 10, 2014
On 5:46 PM by Unknown in Konservasi Jenis Ikan, Nusantara
![]() |
| Paus Bermain di Teluk Benlelang, Alor Indonesia [Foto : Hendra] |
Kabupaten Alor sebagai salah satu dari Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah wilayah kepulauan dengan 15 pulau yaitu 9 pulau yang telah dihuni dan 6 pulau lainnya belum atau tidak berpenghuni. Luas wilayah daratan 2.864,64 km², luas wilayah perairan 10.773,62 km² dan panjang garis pantai 287,1 km. Secara geografis daerah ini terletak di bagian utara dan paling timur dari wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 8º6’LS - 8º36’ LS dan 123º48’ BT - 125º48’ BT. Batas alam Kabupaten Alor disebelah utara dengan Laut Flores, sebelah selatan dengan Selat Ombay, sebelah timur dengan Selat Wetar dan perairan Republik Demokratik Timor Leste dan sebelah barat dengan Selat Alor (Kabupaten Lembata).
Teluk Benlelang terletak sebelah utara di Pulau Alor yang menjadi bagian dari laut Flores. Teluk Benlelang menjadi bagian dari Kecamatan Kabola dan Kecamatan Timur Tengah Utara Kabupaten Alor. Teluk ini cenderung melebar dan dalam, arus yang cukup kuat serta kaya akan sumber daya ikan.
Pada bulan Juli - Oktober, perairan di wilayah tropis khususnya di Indonesia menjadi hangat. Kondisi ini cocok bagi paus untuk melahirkan dan mengasuh anak-anaknya. Karena lapisan lemak anak paus cenderung tipis sehingga induknya cenderung membawa anaknya ke wilayah tropis. Seperti halnya di Teluk Benlelang, setiap bulan tersebut banyak kawanan paus yang bermain-main di wilayah tersebut, untuk mencari makan serta mengasuh anaknya. Paus bermigrasi melalui selat Pantar, dan beberapa juga ada yang masuk ke wilayah Teluk Mutiara yang selanjutnya menuju ke Teluk Benlelang yang cukup luas dan dalam untuk bermain dan mengasuh anak. Pada umumnya anak atau bayi paus menyusu ke induknya selama 7 bulan dan mengikuti migrasi induknya ke kutub pada musim semi. Setelah berhenti menyusu, anak atau bayi paus mulai memakan krill dan mengikuti siklus migrasi normal.
Hal ini dapat dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata yaitu whale watching. Wisatawan domestik maupun mancanegara diajak merasakan sensasi dalam whale watching. Perlu disediakan sarana informasi seperti peta migrasi paus, titik-titik paus bermain serta sarana transportasi yang memadai guna mendukung wisata whale watching di Kabupaten Alor.
Friday, October 31, 2014
![]() |
| Sambal Lu'at |
Namanya sambal Lu'at. Sambal khas dari wilayah Nusa Tengara Timur khususnya Kupang merupakan salah satu sambal nusantara yang memiliki rasa unik. Sensasi asam dan pedas sangat luar biasa. Sambal Lu’at asam dan pedas serta wangi karena daun kemanginya. Sambal yang mirip dengan Sambal Jeruk, namun ditambah potongan kulit jeruk dan bahan dasarnya cabai merah. Sangat pedas dan beraroma khas jeruk. Sambal Lu’at adalah teman untuk makan Se’i, biasanya daging Se’i, dipotong tipis-tipis, lalu di beri sambal Lu’at.
Tuesday, September 2, 2014
On 12:24 AM by Unknown in Konservasi Jenis Ikan, Nusantara
| Bambu Laut Di Perairan Alor |
Re Posting dari http://kkji.kp3k.kkp.go.id bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Keputusan
Menteri Kelautan dan Perikanan (Kepmen KP) No. 46 tahun 2014 telah
menetapkan Bambu Laut (Isis spp) sebagai jenis dilindungi
secara terbatas. Perlindungan jenis bambu laut sebagaimana termuat dalam
Kepmen KP tersebut adalah perlindungan terbatas berdasarkan periode
waktu tertentu selama 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal ditetapkan,
yakni tanggal 27 Agustus 2014. Dengan berlakunya Kepmen KP ini,
kegiatan pengambilan dan perdagangan bambu laut untuk sementara
dihentikan atau tidak diperbolehkan, pengecualian untuk kegiatan
penelitian dan pengembangan.
Bambu
laut, merupakan biota penyusun terumbu karang kedua sesudah karang
batu. Isis spp merupakan salah satu jenis oktokoral yang hidup
diperairan tropis Indo - Pasifik. Di Indonesia jenis ini mendominasi
perairan Indonesia bagian timur, terutama perairan Sulawesi, NTT, Maluku
dan Papua. Bambu
laut diketahui mengandung senyawa antivirus dan banyak dimanfaatkan
secara umum oleh masyarakat sebagai bahan baku farmasi. Laporan dari
Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Pangkep bambu laut juga dicari
untuk bahan campuran pembuatan keramik porselin. Biota beruas-ruas
seperti bambu ini banyak diperdagangkan dan diekspor ke Eropa, Amerika,
dan sebagian Asia. Permintaan pasar terbesar adalah dari Cina dan
memiliki harga yang tinggi.
Tingginya
permintaan pasar mengakibatkan bambu laut banyak diburu dan
diperdagangkan oleh masyarakat. Eksploitasi bambu laut di beberapa
tempat sudah berlebihan dan sudah membahayakan ekosistem. Disebut
merusak karena metode pengambilannya mencungkil untuk mengambil
koloninya sehingga merusak karang keras di bawahnya. Hasil kajian dan
survey status populasi bambu laut yang dilakukan Peneliti UNHAS dan
BPSPL Makassar menunjukan bahwa populasinya sudah jarang ditemukan di
perairan Sulawesi. Gubernur Sulawesi pun telah menindaklanjuti hasil
kajian dari UNHAS dengan mengeluarkan SK Pelarangan Pemanfaatan Bambu
Laut pada Tahun 2009.
Mencegah
terjadinya eksploitasi yang berlebihan dan meluasnya kerusakan
ekosistem terumbu karang, KKP setelah mendapat rekomendasi ilmiah dari
LIPI dan bedasarkan hasil analisis kebijakan akhirnya menetapkan spesies
ini menjadi jenis yang dilindungi secara terbatas waktu, menutup
sementara pemanfaatan bambu laut selama kurun waktu 5 tahun. Penutupan
bertujuan untuk pemulihan dan perbaikan tata kelola (tata niaga) bambu
laut. Sehingga diharapkan pasca 5 tahun pemanfaatan bambu laut dapat
berkelanjutan dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibanding
saat ini.
Sumber : http://kkji.kkp.go.id
Baca juga : Bambu Laut (Isis hippuris) Penghasil Antibakteri Dan Antivirus
Baca juga : Bambu Laut (Isis hippuris) Penghasil Antibakteri Dan Antivirus
Monday, September 1, 2014
On 1:38 AM by Unknown in Konservasi Jenis Ikan, Nusantara
|
Lokasi
|
Kabupaten Probolinggo
|
|
Fasilitator
|
BPSPL Denpasar
|
|
Dokumen Awal
|
Tahun 2013
|
|
Dokumen Akhir
|
Tahun 2014 (on progress)
|
|
Panjang Pantai
|
|
|
Sumber
|
http://limabelasikan.blogspot.com
|
Monday, July 21, 2014
Manggulu adalah salah satu panganan khas dari Sumba Timur. Bagi
masyarakat pulau Nusa Tenggara Timur, Manggulu sudah bukan barang asing
karena makan ini sudah diperkenalkan secara turun temurun oleh orang
tua.
Selain menjadi
makanan khas Sumba, Manggulu juga memiliki nilai historis. Ketika masa
penjajahan, makanan manis ini sangat disukai serdadu Belanda. Bahkan
pada waktu
mereka masuk ke wilayah pelosok di Sumba Timur, mereka selalu membawa
makanan Manggulu ini,
karena rasanya yang manis, bentuknya
seperti dodol dan kecil dianggap mudah
dibawa dan ampuh untuk menahan rasa lapar.
Manggulu ini sebetulnya adalah makanan yang terbuat
dari dari pisang yang telah dikeringkan
dengan cara dijemur di panas matahari.
Makanan lezat ini dikenal sangat
sederhana, baik cara pembuatannya maupun cara penyajiannya. Bahan dasar
Manggulu ini sangat mudah
didapat, yaitu pisang yang telah dimasak dan kacang tanah. Tetapi proses
pembuatannya cukup memakan waktu karena melalui proses alami. Pengupasan
pisang
hingga menjadi Manggulu membutuhkan waktu hingga dua minggu. Kemudian
pisang
kepok masak harus dikeringkan dulu, kemudian kacang tanah goreng
dikeluarkan kulit arinya. Kacang tanah
kemudian ditumbuk. Kemudian setelah kedua bahan ini halus lalu dicampur
dan
kemudian dibentuk.
Kalau cara tradisional, pembentukan manggulu dengan
menggunakan tangan. Tetapi akhir-akhir ini
pencampuran dan pembentukannya sudah menggunakan mesin penggiling.
Manggulu yang mirip dodol ini kemasan aslinya dibungkus dengan daun
pisang
kering. Karena orang Sumba percaya bahwa daun pisang kering memiliki
nilai
pengawet. Tetapi sekarang ini daun pisang mulai diganti dengan kemasan
plastik.
Manggulu saat ini masih ada, namun keberadaannya mulai tergeser
oleh penganan dari luar. Selain karena produksinya terbatas, perubahan
gaya hidup masyarakat Sumba turut berpengaruh terhadap eksistensi dari
produk tersebut. Keterbatasan produksi disebabkan oleh proses
pembuatannya yang cukup memakan waktu.
#CintaNegeri
Tuesday, May 27, 2014
On 6:14 PM by Unknown in Nusantara
Ekosistem di
Pulau Ndana dapat dibedakan menjadi ekosistem laut dan darat. Ekosistem laut
terdiri dari terumbu karang dan padang lamun. Berdasarkan hasil survei manta
tow tahun 2012 di sebagian terumbu karang Pulau Ndana diperoleh bahwa
kondisinya sudah cukup rusak. Sebagian besar tutupannya didominasi
oleh karang lunak. Bentuk hidup (lifeform)
yang dijumpai adalah massive, branching,
mixed dan encrusting. Di lokasi
ini ditemui karang dalam kondisi rusak yang cukup banyak. Faktor penyebabnya
adalah pengeboman dan gelombang laut yang keras pada musim tertentu. Beberapa
juvenil karang sudah mulai tampak namun dalam jumlah belum terlalu banyak. Dari laporan Monitoring Terumbu Karang TNP Laut Sawu (2011)
diperoleh kondisi terumbu karang di sisi barat Pulau Ndana sudah rusak tapi
tidak separah di sisi utara. Di bagian lain kondisi terumbu karang tidak
diketahui karena tidak dapat diakses disebabkan oleh gelombang yang tidak
pernah reda. Dengan karakteristik gelombang yang demikian, kemungkinan terumbu
karang yang ada adalah terumbu karang dalam.
Di dalam
ekosistem laut terdapat berbagai jenis ikan yang dapat dijumpai, yaitu ikan
kepe-kepe (Chaetodon sp), Gemutu (Chromis sp), Botok laut (Abudefduf sp), Buntana (Acanthurus sp), Dakocan (Dascyllus sp), dan Betok pasir (Pomacentrus sp), Ikan kembung (Rastelliger sp), Kakap (Lutjanus
sp), Tembang (Clupea sp), Ekor
kuning (Caesio sp), Belanak (Mugil sp), Teri (Stelophorus sp), Tenggiri (Scomberolus
sp), Tongkol (Euthynnus sp), Hiu
(Eulamia sp), Kerapu (Epinephelus sp), Selar (Caranax sp), Ikan terbang (Cypsilurus sp), Layang (Decapterus sp), Paperek (Leiognathus sp), Cucut (Eulamia sp), dan Pari (Dasyatis sp). Disamping itu juga dapat
dijumpai beberapa jenis biota laut yaitu antara lain Lola (Trochus niloticus), Kima (Cassis
cornuta), Nautilus berongga (Nautilus
pogupilius), Triton terompet (Charonia
tritonis) dan batu laga (Turbo
mamoratus).
Ekosistem
padang lamun di perairan laut Pulau Ndana diketahui dari sampel di depan markas
Satgas Pam Pute, yaitu terdiri dari Thallasia
hemprichii, Halophila ovalis, dan Halodule
uninervis. Dari ketiga jenis lamun ini, jenis Thallasia hemprichii adalah jenis yang paling dominan, ditemukan
pada semua sampel yang diambil. Kerapatan tutupannya mencapai 50%. Tingkat
pertumbuhannya masih muda karena hanya memiliki panjang helai daun tidak lebih
dari 30 cm.
Menurut
informasi dari warga Kampung Oeseli (Bapak Steph) dan dikuatkan oleh beberapa
Marinir TNI AL, di pantai Pulau Ndana bagian Barat Daya dan Timur sering
ditemui penyu hijau yang bertelur. Di
lokasi ini kondisi pasirnya memang sangat cocok; lembut, bersih dan tebal
(dalam) hingga ~50 cm. Namun pada saat survei, tidak ditemukan adanya
bekas/jejak penyu yang dapat diamati. Di selat antara Pulau Ndana dan Kampung
Oeseli nelayan sering menjumpai/melihat berbagai jenis hiu dan penyu yang
bermain di sekitar pulau kecil, pulau Heliana,
di tengah selat tersebut.
Ekosistem darat
terdiri dari hutan campuran, padang rumput (sabana), dan danau. Ekosistem hutan
campuran mencakup daerah perbukitan batu gamping koral. Jenis tanaman yang
dapat dijumpai antara lain adalah eboni/kayu hitam (Diospyros ferrea Baks), kesambi (Schleichera oleosa), tampa badak (Rauvolfia sumatrana),
kayu merah (Pterocarpus indicus), beringin (Ficus benyamina) dan
gaharu (Aquilaria moluccensis), Asam (Tamarindus indica), dan
Lontar (Borassus flabbier). Ekosistem padang rumput terdiri dari
vegetasi rumput udang (Eragrostis
unioloides), rumput teki laut (Remirea maritima) (Gartiasih,
R.; Sutrisno, E.; Hutauruk, H. T., 1996), Indogofera
glandulosa wild, Poltinia fulva benth, Mollugo pentaphyta L.,
dan Euphorbia reniformis BL. Pada daerah pantai juga dijumpai vegetasi
perintis seperti tapak kambing (Ipomoea pes-caprae) dan rumput
angin (Spinifex littoreu).
Saat ini di areal padang rumput telah disiapkan lubang-lubang tanah untuk
penanaman pohon kelapa yang dapat memberikan manfaat lebih banyak.
Fauna
yang terdapat di Pulau Ndana antara lain adalah Rusa Timor (Cervus timorensis).
Binatang ini termasuk dalam apendik II Cites, yang berarti populasinya dapat
terancam punah apabila tidak dibatasi dalam pemanfaatannya karena laju
pertumbuhannya lebih rendah. Saat ini populasinya tidak diketahui pasti, namun
sebagai gambaran pada tahun 1991 dilakukan penelitian yang menyatakan bahwa
populasi Rusa Timor tercatat
sejumlah 537 ekor, terdiri dari 155 jantan dewasa, 259 betina dewasa dan 123
rusa muda (Gartiasih, R.; Sutrisno, E.; Hutauruk, H. T., 1996). Selain itu
juga terdapat burung walet, dan burung belibis/itik liar (Coirina sp.),
Raja Udang (Helcon clorisi), Tekukur (Spreptolia sp), Dara Hutan
(Columba sp.), Betet (Apromictus sp), Gagak (Corvus sp),
Elang (Elanus sp), Dara Laut (Sterna hirunda), Puyuh (Turnyx
sp), Elang laut abu (Heliatus leucogaster), Kotak kiuk (Philemon inornatus),
Walik Rawa manu (Ptilonopus dohertyi), dan Burung hantu
Di Pulau Ndana terdapat
ekosistem yang cukup unik yaitu danau di tengah-tengah perbukitan batu gamping.
Ada 4 buah danau yang masih
terisi air, terdiri dari dua danau besar dan
dua danau kecil. Luas seluruhnya adalah 3.9 ha. Danau yang paling besar dikenal
dengan danau merah karena memang warna airnya kemerah-merahan.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat terdekat, warna merah tersebut
disebabkan oleh tumpahan darah penduduk Pulau Ndana yang dibasmi oleh
Sangguana. Kedalaman air danau tidak terlalu dalam dan akan keruh pada
saat-saat tertentu.
#CintaNegeri
Bersambung
Sunday, May 25, 2014
On 10:48 PM by Unknown in Nusantara
Surga Yang Tersembunyi
Pulau Ndana menyimpan potensi pariwisata yang dapat dikembangkan karena memiliki keunikan dan keindahan alamnya. Keunikannya adalah menjadi predikat pulau terluar paling selatan Negara Indonesia. Presiden Indonesia melalui Bupati Rote Ndao bahkan mengeluarkan sertifikat bagi siapa saja yang pernah menginjakkan kakinya di pulau ini. Sebagai bagian paling selatan Negara Indonesia, di pulau ini terdapat penanda tugu patung Jenderal Sudirman dan juga titik dasar no 121 Indonesia. Sementara itu, keindahan alamnya dapat dinikmati dengan sepuasnya karena masih cukup alami, hampir dapat dikatakan tidak ada gangguan dari manusia. Di pulau ini terdapat pantai dengan pasir putih lembut sepanjang hampir 70% dari garis pantai, cahaya matahari yang terik, goa-goa di perbukitan gamping, sarang walet, danau air tawar dan tracking hutan atau padang rumput yang cukup luas. Selain itu juga dapat dinikmati keindahan bawah laut atau deburan ombak yang cukup keras.
Friday, May 23, 2014
On 7:42 PM by Unknown in Nusantara
Sarana
perhubungan ke Pulau Ndana dari kota besar terdekat (Kupang) dapat ditempuh
melalui kombinasi perjalanan laut, darat dan udara. Paling tidak ada tiga
pilihan jalur perhubungan yang dapat digunakan dari Kota Kupang ke Pulau Ndana (1.10),
yaitu:
1.
Dari Pelabuhan Tenau (Kupang) ke Pelabuhan Baa (Rote) ditempuh dengan
menggunakan kapal cepat selama 2 jam. Tiba di Pelabuhan Baa kemudian
dilanjutkan ke Kampung Oeseli dengan perjalanan darat selama 1 jam. Dari
Kampung Oeseli, Pulau Ndana dapat dicapai dengan perahu nelayan setempat dengan
jarak tempuh kurang lebih 1 jam.
2.
Dari Pelabuhan Bolok (Kupang) ke Palabuhan Baru (Rote) ditempuh dengan
menggunakan kapal fery selama 4 jam. Tiba di Pelabuhan Baa perjalanan
dilanjutkan seperti pilihan no. 1
3.
Pilihan ke tiga adalah dengan menggunakan pesawat carter dari Bandara
El-Tari menuju Bandara Lekunik di Rote yang ditempuh dalam waktu 30 menit. Tiba
di Bandara Lekunik dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Kampung Oeseli.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Search
Save Manta dan Isis hippuris
limabelasikan.blogspot.com
Categories
Blog Archive
Entri Populer
-
Peta Distribusi Penyu (wcs.or.id) Latar Belakang Penyu merupakan reptil yang hidup di laut serta mampu bermigrasi dalam jarak yang ...
-
Surga Yang Tersembunyi Pulau Ndana menyimpan potensi pariwisata yang dapat dikembangkan karena memiliki keunikan dan keindah...
-
Carcharhinus falciformis (Hiu Lonjor, Hiu Mungsing, Cucut Lanyam) Di daerah Lombok, hiu ini dinamakan hiu lonjor. Sedangkan di Bali d...
-
Rhizopriodon oligolinx di Kedonganan Bali (Survei Hiu BPSPL Denpasar 2014) Grey sharpnose shark atau di kenal dengan nama Hiu Pilus at...
-
Paus Bermain di Teluk Benlelang, Alor Indonesia [Foto : Hendra] DOWLOAD POSTER ; DOWNLOAD BUKU ; DOWNLOAD STIKER Kabupaten ...
-
Kementerian Kelautan Perikanan melalui Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan (Dit-KKJI) merilis peta distribusi Hiu Paus di Indon...
-
Bambu Laut. Foto oleh D. Derian DOWLOAD POSTER ; DOWNLOAD BUKU ; DOWNLOAD STIKER Dalam penelitian Anna E.W. Manuputty P...
-
Manggulu adalah salah satu panganan khas dari Sumba Timur. Bagi masyarakat pulau Nusa Tenggara Timur, Manggulu sudah bukan barang ...
-
Pulau Ndana merupakan pulau kecil terluar paling selatan Indonesia. Berada di wilayah Desa Oeseli, Kecamatan Rote Barat Data, Kabupate...
-
Manta alfredi Pari Manta telah dilindungi secara penuh oleh pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perik...








